Penggunaan Alat Pelindung Diri Bagi Mencegah Penyakit Infeksius Pada Tenaga Medis Dalam Menghadapi Pandemi COVID-19

 

supplier perlengkapan safety jakartaDi era pandemi COVID-19 ini, pemakaian alat pelindung diri (APD) sangatlah urgen untuk menurunkan risiko penularan penyakit infeksius pada tenaga medis sebab dapat menghindarkan kontak dengan patogen. Hal-hal yang butuh diketahui tenaga medis berhubungan APD ialah jenisnya, teknik melepaskan, dan bagaimana menambah kepatuhan tenaga medis dalam memakai APD.

Terdapat sekian banyak penyakit paling infeksius yang dapat menyebabkan pandemi, laksana penyakit virus Ebola, severe acute respiratory syndrome (SARS), influenza, dan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dampak infeksi virus Corona 2019-nCoV yang sedang merebak ketika ini. Kontak dengan penyakit-penyakit paling infeksius dengan angka fatalitas penyakit yang tinggi tersebut, membuat tidak sedikit tenaga medis meninggal di wilayah pandemik. Di Liberia, Sierra Leone, dan Guinea sejumlah 869 tenaga medis terjangkit Ebola dan lebih dari separuhnya meninggal dunia.[1-3]

Penyakit-penyakit paling infeksius itu dapat menular melewati kontak dengan droplet batuk maupun bersin penderita, kontak dengan darah dan cairan tubuh penderita, needle stick injury, bahkan kontak dengan benda-benda yang telah terkontaminasi patogen. Dokter, perawat, dan tenaga medis beda di kemudahan kesehatan mempunyai peluang guna kontak langsung dengan pasien-pasien itu dan berisiko tinggi guna tertular. Penyakit laksana Ebola dan SARS belum mempunyai vaksinasi maupun penyembuhan yang efektif, oleh karena tersebut pemakaian APD (personal protective equipment) memegang peranan urgen dalam mengayomi tenaga medis.[3,4]

Jenis Alat Pelindung Diri
Pakaian pelindung, sarung tangan, masker, hoodie, respirator, kacamata pelindung (goggles), pelindung wajah, dan sepatu boots adalahalat pelindung diri yang direkomendasikan ketika menangani pasien tersangka permasalahan infeksi paling menular. Pemilihan jenis perangkat pelindung diri usahakan dicocokkan dengan tipe penyampaian (aerosol, cipratan darah atau cairan tubuh, bersentuhan dengan pasien atau jaringan tubuh), jenis formalitas atau kegiatan yang dikerjakan, serta ukuran yang cocok dengan pemakai.[5-7]
Baju Pelindung
Berdasarkan keterangan dari tinjauan Cochrane yang dipublikasikan pada Juli 2019, pemakaian jubah (gown) menyerahkan perlindungan terhadap kontaminasi lebih baik dikomparasikan apron. Studi ini pun menuliskan bahwa material baju pelindung yang lebih breathable tidak menambah risiko kontaminasi dikomparasikan material yang lebih tahan air. Jenis material ini bahkan dapat meningkatkan kenyamanan pemakai. Namun, perlu disalin bahwa benang merah ini ditarik dari studi dengan kualitas bukti yang rendah.[7] Prinsip baju pelindung yang lain ialah sekali pakai, serta ukurannya cocok dengan pemakai sampai-sampai tidak menghambat pergerakan.[9]
Di Eropa, baju pelindung memakai standar EN 14126, yang membagi tipe baju pelindung menjadi 6 kelas. Baju pelindung ruang belajar 6 mempunyai perlindungan sangat baik, yang bahkan dapat melindungi dari partikel bakteriofag pada desakan hidrostatik 20 kPa. Di Amerika Serikat, dipakai standar ANSI/AAMI PB70 2012 guna jubah pelindung. Berdasarkan standar itu baju pelindung dipecah menjadi 4 kelas. Efek perlindungan yang diserahkan oleh baju pelindung ruang belajar 4 sangat baik, yakni dapat melindungi dari kontaminasi virus pada desakan 2 psi. WHO menyarankan pemakaian EN 13795 atau ANSI/AAMI PB70 2012 ruang belajar 3 atau ruang belajar 4 guna proteksi tenaga medis pada permasalahan Ebola.[7]
Pelindung Mata
Alat pelindung diri guna bagian mata dapat menggunakan goggles atau face shield. Atribut perangkat pelindung diri tersebut bermanfaat untuk mengayomi mata dari kontaminasi patogen berupa droplet, cipratan darah, atau cairan tubuh pasien. Face shield bisa dikenakan di luar goggles untuk mengayomi bagian wajah seluruhnya. Face shield dan goggles seringkali dapat digunakan ulang, tetapi harus dimurnikan dengan teknik direndam memakai larutan klorin yang diencerkan 1:49 lantas dibilas dengan air bersih.[9]
Masker
Pada sebuah riset (low evidence) pemakaian masker dengan bahan yang breathable menemukan angka kepuasaan pemakai yang lebih baik dan tidak mengakibatkan kontaminasi yang lebih tinggi secara signifikan. Penggunaan powered air-purify respirator (PAPR) menyerahkan perlindungan yang lebih baik ketimbang pemakaian respirator atau perangkat pelindung jenis beda (RR 0,27; 95% CI 0,17-0,43). PAPR adalahsalah satu jenis respirator dengan blower elektrik dengan baterai guna menyaring udara masuk. PAPR disarankan digunakan bila masker N95 tidak cocok dengan format wajah atau bila akan mengerjakan prosedur yang memproduksi gas aerosol.[7,9]
Sarung Tangan dan Sepatu Boot
Sarung tangan menangkal kontak kulit tangan dengan darah, cairan tubuh, droplet, jaringan tubuh, dan benda-benda yang terkontaminasi patogen. Sarung tangan usahakan dipakai sekali pakai. Panjang sarung tangan usahakan melalui pergelangan tangan dan ukurannya sesuai sampai-sampai bagian lengan baju pelindung bisa dimasukkan ke dalamnya. Hasil tinjauan Cochrane mengejar bahwa pemakaian sarung tangan ganda (double gloving) menurunkan kontaminasi dikomparasikan pemakaian tunggal.
Untuk unsur kaki, perangkat pelindung diri yang dipakai berupa sepatu boot dari bahan karet atau bahan tahan air lainnya yang dapat ditambah dengan pemakaian boot cover di unsur luarnya.[7,9]
Modifikasi Bentuk APD
Modifikasi format alat pelindung diri (APD) dengan destinasi proteksi yang lebih tinggi bisa menurunkan risiko kontaminasi. Jenis modifikasi ini contohnya kombinasi jubah dan sarung tangan yang bisa dilekatkan (RR 0,27), atau jubah dengan format yang lebih ketat di unsur leher dan pergelangan tangan (RR 0,08).[7]
Cara Penggunaan Alat Pelindung Diri
Ada sekian banyak pedoman bersangkutan teknik pemakaian perangkat perlindungan diri (APD), antara beda CDC 2014, WHO 2014, European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) 2014, dan Australian NHMRC (National Health and Medical Research Council) 2010.
Berbeda dengan pedoman lainnya, menurut keterangan dari ECDC 2014, pemakaian APD mesti diperbanyak dengan pemberian plester di pergelangan sarung tangan, unsur yang tersingkap di sepatu boot, dan unsur tepi goggles guna meyakinkan tidak terdapat bagian yang terbuka. WHO mengaku bahwa pemakaian plester tidak diperlukan bilamana ukuran APD sudah cocok dan tidak terdapat celah antara baju pelindung dengan sarung tangan atau sepatu boot. Penggunaan plester yang terlalu tidak sedikit membuat proses pemakaian (donning) menjadi lama, sulit ketika melepaskan, serta berisiko merusak sarung tangan atau baju pelindung saat mencungkil plester.[7,10,11]
Pedoman WHO 2014 menyarankan pemakaian sarung tangan ganda saat melakukan formalitas berisiko tinggi atau akan mengerjakan kontak dengan cairan tubuh pasien. Selama kontak dan mengerjakan prosedur pada pasien, semua atribut APD jangan dilepas, kecuali mengubah sarung tangan unsur luar. Sarung tangan luar bisa diganti segera setelah mengerjakan satu formalitas medis dengan kontaminasi yang signifikan. Tenaga medis mesti segera mencungkil APD di lokasi doffing bilamana terkena cairan tubuh atau darah dalam jumlah signifikan, serta bila ditemukan adanya robekan pada sarung tangan atau unsur lengan yang tidak tertutupi oleh sarung tangan.[5,7]
Teknik Penggunaan Alat Pelindung Diri
Saat mengerjakan prosedur pemakaian alat pelindung diri (APD), butuh ada seorang petugas terlatih yang mengerjakan supervisi formalitas sesuai protokol dan pun seorang asisten yang menolong memakaikan atribut tertentu. Berikut ini prosedur pemakaian (donning) APD:
1. Sebelum memakai alat pelindung diri, petugas mencungkil seluruh perhiasan yang dikenakan tergolong jam tangan. Petugas yang berambut panjang mesti mengikat rambut. Petugas yang berkacamata mesti melekatkan kacamata agar tidak jatuh
2. Inspeksi situasi alat pelindung diri, meyakinkan ukurannya cocok dengan tubuh petugas dan tidak ada kehancuran pada alat
3. Lakukan cuci tangan (hand hygiene)
4. Kenakan sepatu Lalu, pasang boot cover, ikat tali yang melingkari boot cover. Usahakan tangan tidak menyentuh lantai. Tahap ini usahakan digarap dalam posisi duduk
5. Kenakan sarung tangan (dalam)
6. Kenakan baju pelindung dan buat supaya lengan baju menutupi pergelangan sarung tangan dalam. Pastikan seluruh bagian lengan sarung tangan masuk di bawah lengan baju pelindung. Pakaikan plester di pergelangan tangan bilamana masih terdapat celah antara baju dengan sarung tangan
7. Kenakan masker N95. Pastikan semua bagian tepi menyesuaikan format wajah sampai-sampai tidak terdapat celah.
8. Kenakan hood, pastikan unsur telinga dan leher tertutup dan tidak terdapat rambut yang keluar. Bagian bawah hood mesti menutupi kedua bahu. Asisten dapat menolong proses pemakaian
9. Kenakan apron (tidak wajib) bilamana menangani pasien dengan fenomena muntah dan diare
10. Kenakan sarung tangan luar yang seringkali mempunyai pergelangan lebih panjang. Tarik unsur lengan sarung tangan sampai menutupi unsur lengan baju pelindung. Penggunaan sarung tangan yang bertolak belakang warna dengan sarung tangan dalam dapat menolong identifikasi
11. Kenakan pelindung wajah (face shield)
12. Evaluasi kelengkapan dan kecocokan pemakaian perangkat pelindung diri menggunakan pertolongan cermin, diperbanyak dengan verifikasi oleh petugas donning[5,12]
Bila memakai powered air-purify respirator (PAPR), maka atribut itu dikenakan setelah memakai baju pelindung. Kemudian dilanjutkan dengan pemakaian sarung tangan luar, hood eksklusif PAPR, dan apron (bila perlu). Penggunaan PAPR membutuhkan pertolongan asisten yang terlatih supaya dapat bermanfaat dengan baik dan tidak menambah risiko kontaminasi.[7,12]
Self-Contamination Saat Proses Melepaskan Alat Pelindung Diri
Penularan penyakit tetap dapat terjadi walaupun petugas telah mengenakan perangkat pelindung diri yang cocok standard. Hal ini diperkirakan sebagai dampak self-contaminating ketika proses mencungkil alat pelindung diri (doffing). Patogen yang ada pada cairan yang mengkontaminasi perangkat pelindung diri (APD) bisa tetap infeksius selama sejumlah waktu. Pada wabah SARS terdahulu, meskipun tenaga medis sudah memakai alat pelindung diri, tetapi jumlah tenaga medis yang tertular menjangkau 20% dari total permasalahan SARS.[3,13,14]
Penggunaan APD berlapis memang menyerahkan efek proteksi yang baik, tetapi dapat memberi batas gerak tenaga medis. Selain tersebut risiko self-contaminating pun meningkat pada ketika petugas mesti mencungkil APD yang berlapis-lapis tersebut. Oleh sebab itu, formalitas pelepasan mesti dilaksanakan secara cermat dan cocok dengan urutan yang benar. Prosedur pelepasan APD mesti dilaksanakan di area eksklusif doffing, diberikan panduan oleh seorang supervisor terlatih, dan ditolong oleh seorang asisten, khususnya dalam mencungkil atribut yang kompleks laksana PAPR.[3,5,7]
Penelitian mengindikasikan risiko self-contamination yang lumayan tinggi ketika proses mencungkil APD, khususnya jenis coverall kepala-mata kaki. Hal ini diakibatkan karena karet lentur pada hoodie ingin melipat ke dalam ketika dilepaskan. Ada pula laporan sarung tangan yang robek sebab tersangkut ketika membuka resleting baju pelindung jenis coverall. Pada sebuah riset lain memakai marker fluoresen, terjadi kontaminasi pada kulit atau pakaian tenaga medis pada 46% (200/435) prosedur mencungkil APD. Sekitar 70,3% prosedur mencungkil APD dilaksanakan tidak cocok panduan. Kontaminasi lebih tidak jarang ditemukan saat mencungkil sarung tangan dikomparasikan saat mencungkil baju pelindung (52,9% vs 37,8%, p=0,002).[15,16]
Sebuah riset di Korea Selatan mengadukan self-contamination terbesar ditemukan saat mencungkil atribut respirator, hood, dan boot cover. Kontaminasi terbesar pada penelitian-penelitian beda ditemukan di lokasi leher, jari tangan, tangan, pergelangan tangan, lengan, dan pun wajah. Semakin tidak sedikit atribut APD yang mesti dikenakan, semakin tinggi kekeliruan prosedur pelepasannya. Keterbatasan masa-masa untuk mencungkil APD pun dapat menambah angka ketidakpatuhan pada urutan prosedur.[15, 17-20]
Teknik Melepaskan Alat Pelindung Diri
Berdasarkan pedoman WHO, prosedur mencungkil alat pelindung diri cocok urutan ialah sebagai berikut:
1. Lakukan cuci tangan (hand hygiene) dengan tetap memakai sarung tangan
2. Robek apron di unsur leher lantas gulung ke unsur depan dan bawah. Hindari tangan menyentuh unsur coverall di belakang
3. Lakukan cuci tangan. Cuci tangan dilaksanakan setiap selesai mencungkil 1 jenis atribut perangkat pelindung diri
4. Lepaskan pelindung kepala-leher (bila hood terpisah dari baju pelindung) dengan teknik menarik unsur atas penutup kepala. Bila memakai coverall kepala-mata kaki, buka terlebih dahulu resleting di unsur dada, lantas lepaskan hoodie ke arah belakang secara perlahan dengan teknik menggulung unsur dalam menjadi unsur luar. Hindari menyentuh unsur luar coverall
5. Setelah coverall terlepas melalui bahu sampai pertengahan siku, tarik lengan perlahan supaya coverall terlepas bareng dengan sarung tangan luar. Teruskan membuka dan menggulung coverall dengan tetap memakai sarung tangan dalam, sampai terlepas seluruhnya dari unsur kaki
6. Lakukan cuci tangan pulang (terus dilaksanakan setiap selesai mencungkil 1 jenis atribut)
7. Lepaskan pelindung mata dengan memegang tali di unsur belakang
8. Lepaskan masker dengan unik bagian tali bawah di belakang melalui kepala ke unsur depan. Dilanjutkan dengan mencungkil tali unsur atas
9. Lepaskan boot cover. Lalu, lepaskan sepatu boot tanpa menyentuh dengan tangan
10. Lepaskan sarung tangan dalam
11. Lakukan cuci tangan di akhir prosedur[21]
Manfaat Pelatihan Khusus Penggunaan Alat Pelindung Diri
Pelatihan khusus teknik pemakaian perangkat pelindung diri (APD) memiliki guna menurunkan kontaminasi dari 60% menjadi 18,9% menurut keterangan dari sebuah riset di 4 lokasi tinggal sakit di Ohio. Penurunan kontaminasi diadukan menetap selama pemantauan di bulan kesatu dan ketiga tanpa pelatihan ulang.
Self-contamination lazimnya terjadi sebab tenaga medis kurang tak asing dengan prosedur pemakaian APD. Pelatihan tenaga medis memakai media audio visual, simulasi, dan penilaian langsung, mempunyai efek yang lebih baik dikomparasikan hanya menyaksikan video atau menyimak checklist.[16,17,19,22]
Penelitian oleh Casalino et al, mencocokkan pelatihan memakai instruktur yang membacakan dengan lantang urutan pemakaian dan pelepasan APD, dengan pelatihan tanpa instruktur. Hasil riset tersebut mengindikasikan bahwa pemakaian APD yang didampingi instruktur yang menyerahkan instruksi pemakaian secara lisan menurunkan angka ketidakpatuhan pemakaian APD dikomparasikan dengan tenaga medis yang tidak menemukan instruksi apapun. Hung et al mengadukan bahwa pemanfaatan simulasi komputer dalam sesi pelatihan menurunkan angka kekeliruan saat mengerjakan doffing.[23,24]
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri dalam Menghadapi Pandemi COVID-19
Jenis perangkat pelindung diri yang dipakai bersangkutan COVID-19 ditentukan menurut tempat dan kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan. Hal ini ditata oleh pedoman pemerintah tentang petunjuk teknis perangkat pelindung diri dalam menghadapi wabah COVID-19.[25]
Pedoman ini perlu diacuhkan dan dibuntuti oleh tenaga kesehatan sebab tenaga kesehatan yang memeriksa, merawat, mengantar, atau mencuci ruangan di lokasi perawatan permasalahan terkonfirmasi COVID-19 tanpa memakai alat pelindung diri cocok standar tergolong dalam pengertian orang tanpa gejala. Hal ini akan menciptakan tenaga kesehatan itu menjadi butuh diisolasi guna pemantauan fenomena selama 14 hari.[26]
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri ketika Pandemi COVID-19 di Ruang Rawat Inap, IGD, dan Kamar Operasi
Tenaga kesehatan yang mengasuh langsung pasien COVID-19 perlu memakai alat pelindung diri sebagai berikut:
 Masker bedah
 Gaun
 Sarung tangan
 Pelindung mata (goggles)
 Pelindung wajah (face shield)
 Penutup kepala
 Sepatu pelindung
Walau demikian, saat tenaga kesehatan mengerjakan tindakan yang menghasilkan aerosol (aerosol generating procedure), masker bedah butuh diganti dengan masker respirator N95, dan tambahkan pemakaian apron.
Contoh perbuatan yang menghasilkan aerosol ialah sebagai berikut:
 Intubasi
 Ventilasi noninvasif
 Trakeostomi
 Resusitasi jantung paru
 Nebulisasi
 Bronkoskopi
 Pengambilan swab
 Pemeriksaan hidung dan tenggorokan, serta pengecekan gigi[25]
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri ketika Pandemi COVID-19 di Area Triase
Tenaga kesehatan yang bertugas di lokasi triase melulu perlu memakai masker bedah. Walau demikian, perlu dijamin bahwa tenaga kesehatan di lokasi triase melulu melakukan skrining mula tanpa kontak langsung dan memberi batas jarak dengan pasien paling tidak 1 meter.[25]
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri ketika Pandemi COVID-19 di Ruang Rawat Jalan
Tenaga kesehatan yang menangani pasien tanpa fenomena infeksi drainase napas melulu perlu memakai masker bedah dengan tetap mengawal jarak paling tidak 1 meter.
Tenaga kesehatan yang mengerjakan pemeriksaan jasmani pada pasien dengan fenomena infeksi drainase napas perlu memakai alat pelindung diri sebagai berikut:
 Masker bedah
 Gaun
 Sarung tangan
 Pelindung mata
 Pelindung wajah
 Pelindung kepala
 Sepatu pelindung
Pada petugas yang mengerjakan pemeriksaan atau perbuatan yang menghasilkan aerosol pada pasien dengan/tanpa fenomena infeksi drainase napas, masker bedah diganti dengan masker respirator N95, dan tambahkan pemakaian apron.[25]
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri ketika Pandemi COVID-19 di Laboratorium
Di laboratorium, tenaga kesehatan yang menggarap sampel drainase napas butuh mengenakan perangkat pelindung diri sebagai berikut:
 Masker respirator N95
 Gaun
 Sarung tangan
 Pelindung mata
 Pelindung wajah
 Pelindung kepala
 Sepatu pelindung
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri ketika Pandemi COVID-19 guna Tenaga Kebersihan
Tenaga kesucian yang bertugas mencuci ruang rawat pasien COVID-19, ruang rawat jalan, atau ruang isolasi, perlu memakai alat pelindung diri sebagai berikut:
 Masker bedah
 Gaun
 Sarung tangan tebal
 Pelindung mata
 Pelindung kepala
 Sepatu pelindung
Alat pelindung diri tersebut pun perlu dipakai saat mencuci ambulans yang dipakai untuk mengalihkan pasien yang dicurigai atau terkonfirmasi COVID-19.[25]
Panduan Penggunaan Alat Pelindung Diri ketika Pandemi COVID-19 di Ambulans
Tenaga kesehatan yang mengantar pasien dicurigai atau terkonfirmasi COVID-19 ke RS rujukan perlu memakai alat pelindung diri sebagai berikut:
 Masker bedah
 Gaun
 Sarung tangan
 Pelindung mata
 Pelindung kepala
 Sepatu pelindung
Sopir yang mengemudikan ambulans lumayan menggunakan masker bedah dan mengawal jarak paling tidak 1 meter dengan pasien. Namun, andai sopir menolong mengusung pasien yang dicurigai atau terkonfirmasi COVID-19, sopir perlu memakai alat pelindung diri yang sama dengan tenaga kesehatan, yaitu:
 Masker bedah
 Gaun
 Sarung tangan
 Pelindung mata
 Pelindung kepala
 Sepatu pelindung[25]
Kesimpulan
Penggunaan perangkat pelindung diri (APD) dapat menolong menurunkan risiko penularan penyakit yang paling infeksius. Teknik pemakaian dan pelepasan APD yang baik, urgen untuk diketahui tenaga medis. Teknik pemasangan dan pelepasan APD usahakan mengekor pedoman dari sekian banyak instansi kesehatan, laksana WHO dan CDC.
Hal beda yang butuh diperhatikan ialah risiko self contamination yang tidak jarang kali terjadi ketika proses pelepasan APD. APD mesti dicungkil secara berurutan dan dengan mengerjakan cuci tangan masing-masing kali selesai mencungkil satu atribut.
Walaupun APD lengkap, seperti dibicarakan pada tulisan di atas, dipakai dalam situasi outbreak penyakit yang paling infeksius dan dengan angka mortalitas tinggi, APD simpel tetap mesti dipakai sebagai pencegahan universal masing-masing berkontak dengan pasien.

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *